Nama Itu Kosong, Karya Itu Nyata

Malam ini, Selasa (9/8) Plaza Teater Besar  Taman Ismail Marzuki seakan menjadi saksi bahwa karya WS Rendra masih tetap hidup sampai saat ini. Ratusan pencinta Mas Willy hadir ke tempat ini untuk mengenang 7 tahun Rendra Berpulang. 

Acara ini di buka dengan lagu kesaksian karya Mas Willy bersama Kantata Taqwa.

Aku mendengar suara
Jerit mahluk terluka 
luka luka hidupnya

Orang memanah rembulan
burung sirna sarangnya
sirna sirna hidup redup

Banyak orang hilang nafkahnya
aku bernyanyi menjadi saksi
bangak orang ditampas haknya
aku bernyanyi menjadi saksi

Mereka dihinakan
tanpa daya terbiasa hidup sangsi
orang orang harus dibangunkan
aku  bernyanyi menjadi saksi

Semua yang hadir menjadi saksi, karya WS Rendra tetap hidup. Anto Baret di tahun 80 an pernah menjenguk salah seorang seniman yang sakit di Jawa Timur bersama Mas Willy. “Mas Willy seorang yang  besar kenapa mau menjenguk saya” tanya seniman itu kepada Rendra. Dan Rendra menjawab “Nama itu Kosong, Karya Itu Nyata”

Penyair Pujaan Rendra, Sutardji Calshoum Bachri membacakan puisi2 Rendra

Hadir juga penyair pujaan Mas Willy, Sutardji Calsoum Bachri membaca beberapa syair karya Rendra di malam ini. Malam semakin gemuruh dengan hadirnya Ine Febriyanti membacakan Naskah 11 halaman Nyanyian Angsa, yang bercerita tentang Maria Zaitun seorang pelacur tua yang sudah tersingkir karena penyakit kelamin yang dideritanya.

petikan puisinya sebagai berikut :

….. Maria Zaitun namaku
Pelacur yang Sengsara
Kurang cantik dan agak tua
Maria Zaitun namaku
pelacur yang takut dan celaka
Maria Zaitun namaku
pelacur yang lapar dan dahaga
Maria Zaitun namaku
pelacur yang lemah, gemetar ketakutan
…..Maria Zaitun namaku
pelacur yang kalah
pelacur terhinakan



Ine mengaku tidak mudah untuk membawakan karya fenomenal Rendra Nyanyian Angsa ini. Namun dengan pengalaman Ine yang sempat selama enam bulan  berlatih bersama Mas Willy ini di bengkel teater. Menerapkan ilmu yang diberikan almarhum, ketika sudah ada di panggung “hadir dan mengalirlah”. Tadi saya di panggung menghadirkan diri saya dan mengalir seperti yang disaksikan tadi itu, naskah 11 halaman.

Ine Febriyani sedang membacakan Nyanyian Angsa

Malam ini karya WS Rendra hadir kembali ke tengah kita, walau jasad sudah meninggalkan kita sslama 7 tahun, namun karyanya tetap hidup.

“Nama Itu Kosong, Karya Itu Nyata”

Jakarta, 9 Agustus 2016

Kang Dudi

Advertisements