Rejeki Tidak Pernah Salah Pintu

Suasana Stasiun Kota

Rejeki memang sudah Allah gariskan bagi setiap manusia. Bahkan setiap mahluk yang ada di dunia ini sudah ada rejeki masing masing. Contoh paling nyata adalah cicak yang merayap di dinding, makananya nyamuk yang terbang kemana mana, jika sudah menjadi rejeki sang cicak maka nyamuk yang terbang bisa menjadi santapan cicak. Itulah rejeki yang tidak pernah salah pintu, yang sudah digariskan oleh Allah kepada semua mahluk ciptaan-Nya.

Zaman sudah beralih ke era digital perkembangan mulai berubah juga. Ojek online begitu marak sekarang sehingga memudahkan orang untuk bergerak lemana saja. Namun di sisi lain ada yang mulai tergusur oleh perkembangan ojek online ini. Salah satunya ojek sepeda yang banyak di daerah Kota Tua Jakarta, mulai sedikit karena mulai tergeser ojek online. Ojek sepeda ini rata rata sudah separuh abad usianya, jarang sekali anak muda yang menjalani profesi ini.

Saya perhatikan masih banyak orang yang menggunakan jasa ojek sepeda ini. Bahkan seperti sudah menjadi langanan setia, tanpa  ada tanya jawab mereka langsung mengunakan jasa ojek, mungkin karena sudah sering menggunakan jasanya. 

Ojek Sepeda
Pak Maksum (53) Sang Ojek Sepeda

Sudah lama saya ingin mencoba kedai kopi tua yang berada di daerah Glodok. Penasaran dengan kopinya, lokasinya sendiri saya belum tahu sehingga membutuhkan seorang penunjuk jalan untuk sampai ke kedai ini. Saya ingat di daerah kota banyak Ojek Sepeda, dan ini pasti bisa mengantarkan ke kedai kopi Es Takkie. 

Dan hari Rabu (24/8) saya berangkat ke kota dengan menggunakan Commuter Line dan  berkenalan dengan seorang tukang ojek sepeda yang biasa mangkal di Stasiun Jakarta Kota (Beos). Namanya Pak Maksum (53), laki-laki setengah abad lebih ini setiap harinya terlihat di stasiun Jakarta Kota (Beos) untuk menjemput rejeki dengan sepeda tuanya itu.

Rutinitas yang sama setiap harinya dari pagi hingga jam 21.30 dan rehat saat dzuhur-ashar, kembali mencari penumpang setelah ashar, lalu rehat saat maghrib-isya, dan kembali mengayuh setelah isya. Tak kenal lelah, demi anak istri di Jepara yang di jumpai dua bulan sekali.

Walau pertemuan singkat dari Beos sampai Glodok, namun saya mempunyai kesan yang sangat mendalam terhadap Pak Maksum ini. Banyak sekali pelajaran yang bisa di ambil dari beliau, terutama dalam proses mencari nafkah untuk keluarganya. Bahkan anak anaknya sudah menyelesaikan sekolah SMK dan sudah bekerja di Jepara. 

Sayang pertemuan singkat sekali, tadinya saya ingin menjelaskan tentang KUDO atau Kios Untuk Dagang Online kepada Pak Maksum. Siapa tahu bisa menjadi pintu rejeki lagi, yang akan menambah penghasilan sebagai ojek sepeda. Bisa jadi nanti tawarkan pembayaran kebutuhan sehari hari seperti listrik, air, telpon dan lainnya kepada para tetanga ataupun pelangan ojeknya.

Saya salut dengan perjuangan Pak Maksum untuk menghidupi keluarganya yang terpisah jauh di Kampung. Walaupun terpisah jarak dan waktu, masih bisa memberikan yang terbaik untuk anak dan istrinya. Saya rasa Pak Maksum sudah menjadi Pahlawan Keluarga yang patut di contoh oleh kita semua.

Semoga Cerita tentang Pak Maksum bisa menjadi inspirasi bagi kita semuanya, bahwa sebaik-baik istirahat adalah sholat tepat waktu. Rejeki yang di bawa ke rumah merupakan rejeki yang halal dan berkah.

Ini ada video perjalanan saya dengan Pak Maksum dari Stasiun menuju Glodok. Bisa di lihat di sini. Semoga bermanfaat.

Jakarta, 30 Agustus 2016

Kang Dudi

Advertisements