Kios Untuk Dagang Online Karya Anak Bangsa

Kang Arul In Action

Pahlawan saat ini bukan seorang yang memegang senjata melawan penjajah. Pahlawan sekarang lebih banyak lagi mulai dari yang berjuang untuk keluarga, masyarakat bahkan tingkat dunia.
Hari Senin (9/8) bertempat di kudoplex daerah Radio Dalam Jakarta Selatan, diadakan peluncuran Video yang Tema “Merdeka Dengan Teknologi Bersama KUDO” lebih spesifik tentang Pahlawan Keluarga. Bagaimana seseorang bisa bangkit dan sukses dalam membantu ekonomi keluarga. Membantu perekonomian keluarga sekarang bisa dengan berbagai cara. KUDO salah satu platform yang menjembatani antara online dan offline. Dunia online memang sedang growth up, pertumbuhan sangat signifikan. Namun belum semua wilayah bisa terjangkau dengan online ini. Jadi kudo sebagai jembatan antara pedagang dan pembeli.

Masih banyak orang yang belum tahu tentang belanja atau jualan online. Dengan konsep warung tetangga di dunia offline, KUDO hadir untuk menjadi warung tetangga yang komplit. Agen tidak perlu menyetok barang namun sudah bisa berjualan. Sehingga orang tidak perlu transfer antar bank untuk belanja, cukup memberikan uang kepada agen saja dan barang dikirim.

Platform ini 100 persen karya anak bangsa, dari ide sampai developernya semua. Semoga akan menjadi pintu rejeki bagi anak bangsa. 

Memasuki kantor KUDO sangat berbeda dengan yang ada, ada beberapa fasilitas permainan untuk karyawannya. Mungkin mirip dengan kantor kantor yang berada di silikon valley Amerika sana.

Terlihat suasana yang sangat santai namun penuh dengan kreatifitas yang tinggi. KUDO merupakan salah satu start up produk 100% karya anak Bangsa. Mudah mudahan platform KUDO menjadi jalan rejeki bagi warga negara Indonesia yang ingin merubah nasibnya menjadi lebih baik.

Saya juga sudah menjadi agen, memindahkan pengeluaran bulanan menjadi sesuatu yang produktif sehingga ada manfaatnya bagi keluarga. Jadi pengeluaran bulanan bisa menjadi salah satu pintu rejeki lainnya.

Dan sayapun mendapat rejeki dari KUDO, terima kasih KUDO.

Kang Dudi

Advertisements

Rejeki Tidak Pernah Salah Pintu

Suasana Stasiun Kota

Rejeki memang sudah Allah gariskan bagi setiap manusia. Bahkan setiap mahluk yang ada di dunia ini sudah ada rejeki masing masing. Contoh paling nyata adalah cicak yang merayap di dinding, makananya nyamuk yang terbang kemana mana, jika sudah menjadi rejeki sang cicak maka nyamuk yang terbang bisa menjadi santapan cicak. Itulah rejeki yang tidak pernah salah pintu, yang sudah digariskan oleh Allah kepada semua mahluk ciptaan-Nya.

Zaman sudah beralih ke era digital perkembangan mulai berubah juga. Ojek online begitu marak sekarang sehingga memudahkan orang untuk bergerak lemana saja. Namun di sisi lain ada yang mulai tergusur oleh perkembangan ojek online ini. Salah satunya ojek sepeda yang banyak di daerah Kota Tua Jakarta, mulai sedikit karena mulai tergeser ojek online. Ojek sepeda ini rata rata sudah separuh abad usianya, jarang sekali anak muda yang menjalani profesi ini.

Saya perhatikan masih banyak orang yang menggunakan jasa ojek sepeda ini. Bahkan seperti sudah menjadi langanan setia, tanpa  ada tanya jawab mereka langsung mengunakan jasa ojek, mungkin karena sudah sering menggunakan jasanya. 

Ojek Sepeda
Pak Maksum (53) Sang Ojek Sepeda

Sudah lama saya ingin mencoba kedai kopi tua yang berada di daerah Glodok. Penasaran dengan kopinya, lokasinya sendiri saya belum tahu sehingga membutuhkan seorang penunjuk jalan untuk sampai ke kedai ini. Saya ingat di daerah kota banyak Ojek Sepeda, dan ini pasti bisa mengantarkan ke kedai kopi Es Takkie. 

Dan hari Rabu (24/8) saya berangkat ke kota dengan menggunakan Commuter Line dan  berkenalan dengan seorang tukang ojek sepeda yang biasa mangkal di Stasiun Jakarta Kota (Beos). Namanya Pak Maksum (53), laki-laki setengah abad lebih ini setiap harinya terlihat di stasiun Jakarta Kota (Beos) untuk menjemput rejeki dengan sepeda tuanya itu.

Rutinitas yang sama setiap harinya dari pagi hingga jam 21.30 dan rehat saat dzuhur-ashar, kembali mencari penumpang setelah ashar, lalu rehat saat maghrib-isya, dan kembali mengayuh setelah isya. Tak kenal lelah, demi anak istri di Jepara yang di jumpai dua bulan sekali.

Walau pertemuan singkat dari Beos sampai Glodok, namun saya mempunyai kesan yang sangat mendalam terhadap Pak Maksum ini. Banyak sekali pelajaran yang bisa di ambil dari beliau, terutama dalam proses mencari nafkah untuk keluarganya. Bahkan anak anaknya sudah menyelesaikan sekolah SMK dan sudah bekerja di Jepara. 

Sayang pertemuan singkat sekali, tadinya saya ingin menjelaskan tentang KUDO atau Kios Untuk Dagang Online kepada Pak Maksum. Siapa tahu bisa menjadi pintu rejeki lagi, yang akan menambah penghasilan sebagai ojek sepeda. Bisa jadi nanti tawarkan pembayaran kebutuhan sehari hari seperti listrik, air, telpon dan lainnya kepada para tetanga ataupun pelangan ojeknya.

Saya salut dengan perjuangan Pak Maksum untuk menghidupi keluarganya yang terpisah jauh di Kampung. Walaupun terpisah jarak dan waktu, masih bisa memberikan yang terbaik untuk anak dan istrinya. Saya rasa Pak Maksum sudah menjadi Pahlawan Keluarga yang patut di contoh oleh kita semua.

Semoga Cerita tentang Pak Maksum bisa menjadi inspirasi bagi kita semuanya, bahwa sebaik-baik istirahat adalah sholat tepat waktu. Rejeki yang di bawa ke rumah merupakan rejeki yang halal dan berkah.

Ini ada video perjalanan saya dengan Pak Maksum dari Stasiun menuju Glodok. Bisa di lihat di sini. Semoga bermanfaat.

Jakarta, 30 Agustus 2016

Kang Dudi