Koki Koki Cilik 2: Profesi Chef Menjadi Impian Anak Indonesia

Dunia kuliner di Indonesia sudah menjadi kian populer, bahkan wisata kuliner pun menjadi salah satu tujuan ketika sedang piknik. Seakan tidak sah piknik tidak menikmati makanan khas daerah yang dikunjungi.

Liburan sekolah juga sekarang sangat beragam untuk di isi dengan kegiatan yang positif. Cooking Camp menjadi salah satu altenatif anak anak mengisi liburan dengan belajar memasak. Tapi kegiatan ini hanya ada di film Koki Koki Cilik 2, alumni Cooking Camp ingin reuni dan kembali belajar masak.

Nah di musim liburan sekolah seperti sekarang ini, film ini bisa menjadi salah satu alternatif kegiatan bersama keluarga. Bagaimana kelanjutan ceritanya mah mending nonton aja langsung tanggal 27 Juni di Bioskop kesayangan bersama keluarga.

Gimana jika belum nonton Koki Koki Cilik? Jangan khawatir pasti nyambung kok, yang pasti mah ga kalah serunya film ini. Yang namanya film pasti ada konflik yang di bangun untuk membuat cerita semakin menarik.

Alhamdulillah sayah berkesempatan ikut nonton Gala Premiere Koki Koki Cilik 2 ini di XXI Kota Kasablanka pada Kamis (20/6) bersama Komunitas ISB yang digawangi Teh Ani Berta.

Ajang reuni memang selalu bikin baper, begitu juga dengan reuni Cooking Camp ini. Seru pisan nonton film ini, bahkan untuk masakannya pun sangat mudah buat anak anak membuatnya. Memang disesuaikan dengan kemampuan anak anak. Untuk hal ini tim menggunakan konsultan chef langsung, jadi memang real bisa dilakukan oleh anak anak.

Dengan dukungan Ringgo Agus Rahman sebagai Chef Grant, makin membuat film ini lebih hidup. Karakter anak anak juga sangat menarik terutama Melly yang selalu nyerocos di antara teman temannya itu. Ada enam karakter anak alumni cooking camp, Bima (Farras Fatik) dan teman temannya ini kaget dengan kondisi Cooking Camp.

Dalam Film Koki Koki Cilik 2 ini, selain Ringgo Agus Rahman ada juga Chef Evan diperankan oleh Christian Sugiono, Adel (Kimberly Rider). Dan ke enam anak Cooking camp mereka adalah Bima (Farraz Fatik), Melly (Alifia Lubis), Kevin (Marcello), Alva (Ali Fikri), Niki (Clarice Cutie), Key (Romaria), yang baru yaitu Adit (Ahdiyat).

Film ini selain menghibur juga sarat dengan pesan moral ynag disampaikan untuk anak anak Indonesia. Dan layak untuk menjadi tontontan saat mengisi liburan anak sekolah.

Mimpi adalah kunci untuk berbuat lebih banyak lagi. Profesi chef sekarang menjadi mimpi banyak anak Indonesia.

Kalo kepo bisa lihat Trailernya di sini ya manteman.

Jangan lupa nonton ya tanggal 27 Juni nanti

Advertisements

Ambu, Semesta Pertama dan Terakhir

Ambu dalam basa sunda adalah sebutan untuk Ibu. Ketika ada tawaran Press Screening film Ambu ini langsung aja daftar. Karena penasaran dengan judulnya, seorang ambu yang bagaimana akan divisualissasikan di Film ini.

Sungguh sangat bikin kepo abis dengan judulnya. Rasa penasaran ini makin menjadi ketika banyak penonton yang menggunakan iket Baduy.

Jadi ada hubungan apa iket Baduy dan Ambu ini? Ternyata eh ternyata setting film ini di Kanekes Baduy.

Yang pasti mata dimanjain banget dengan visual tentang Baduy. Sang DOP Yudi Datau berhasil memanjakan mata penonton dengan keindahan Baduy.

Poster Film 3 Tokoh, Fatma (Cynthia Bella), Ambu Misnah (Widyawati) dan Nona (Luthesa). Nah Tokoh Ambu dan Fatma ini aseli Baduy. Jika seorang warga sudah keluar dari Kampung Kenekes maka sudah bukan warga Baduy lagi. Jika ini kembali perlu di hukum selama 40 hari dan di terima kembali dengan adat Baduy.

Dalam cerita ini Fatma sudah keluar dari Kanekes karena menikah dengan orang Jakarta. Proses kembalinya Fatma ke Kanekes dengan membawa anaknya yang tidak mengenal adat Baduy sama sekali ini menjadi cerita yang menarik.

Karena susah tidak mempunyai apa apa lagi di Jakarta, akhirnya Fatma kembali ke Kanekes. Walaupun tahu akan penerimaan Ambu terhadapnya sangat dingin.

Di Film ini juga ada beberapa prinsip orang Baduy yang bisa di ambil oleh kita, seperti jalan harus beriringan ke belakang. Kalau kita berjalan bersisian akan menghalangi orang lain yang berlawanan arah. Saya baru tahu tentang hal ini di film ini. Kearifan lokal Baduy sangta terasa di film ini.

Ambu pun melaporkan kedatangan Fatma kepada Jaro (Pemangku Adat), gimana mensikapi ini. Jaro mengembalikan kepada Ambu Misnah, mau menerima kembali Fatma dengan catatan harus di hukum selama 40 hari. Atau Fatma mau di anggap sebagai Semah (tamu) selama tinggal di Baduy.

Proses penerimaan Ambu ke Fatma inilah cerita yang menguras air mata penonton. Bagaimanapun seorang ibu akan terus mengasihi anaknya.

Film ini memang berbeda dari yang lain dan patut menjadi salah satu yang di tonton. Jangan lupa tanggal 16 Mei untuk nonton film Ambu ini.

Selamat menonton Ambu, Semesta Pertama dan Terakhir.

Preman Juga Manusia, Bisa Pensiun

Kita Dipertemukan oleh bisnis, Bisnis yang bagus tapi bukan bisnis yang baik

Dunia hitam sangat identik dengan keras dan sangar. Ternyata banyak sisi humanis yang tidak diketahui. Serial TV Preman Pensiun sangat menarik perhatian masyarakat Indonesia tiga tahun lalu. Memang tidak selalu menonton serial ini, namun memang sangat ringan dan membumi dialognya. Terutama dengan gaya khas yang dari pemain serta bodor sunda-nya.

Film Preman Pensiun ini masih satu paket pemain dan sutradaranya. Sehingga karakter serial pasti masuk dalam film ini, hanya cerita saja yang membedakan.

Terus terang sayah ngakak hampir sepanjang film ini, celetukan khas sunda mengingatkan masa kecil saya di Bandung. Dengan gaya continue dialague makin tambah keren. Ini juga khas ketika di serial TV. Dengan seperti itu kita disajikan gambar yang penuh kejutan namun rangkaian cerita tetap terjaga dengan sempurna.

Siapapun ketika berubah kepada arah kebaikan pasti akan ada hambatan. Bagaimana menyelesaikan hambatan ini adalah sebuah proses. Film ini bercerita tentang perjalanan paska hijrah dari bisnis baik belum benar ke bisnis baik ddan benar. Cerita simpel keseharian yang sering kita temui dalam kehidupan sehari hari.

Ternyata Preman juga punya sisi humanis yang bisa dijadikan pelajaran bagi kita semua. Proses perjalanan menjadi baik itu yang harus kita bisa lakukan secara terus menerus sepanjang hayat.

Menonton Film Preman Pensiun ini selain menghibur kita juga bisa banyak belajar tentang sisi humanis Preman. Bagaimana memikirkan anak gadis yang menjelang dewasa, memikirkan keluarga bahkan me time.

Yang menarik perhatian sayah di Press Sreening Film ini adalah Kang Epy hadir dengan kostum keseharian dalam film ini. Selain itu sangat akrab dengan yang ingin berfoto dengannya. Bahkan ada beberapa adegan foto yang kocak dengan fansnya. Gelo pisan Kang Epy totalitas.

Ada yang penasaran dengan film ini ga? Biar ga penasaran bisa lihat thrillernya ini ya, Tanggal 17 Januari 2019 akan di putar serentak di Bioskop kesayangan anda, jadi jangan sampai ketinggalan melihat aksi kocak Murad dan Pipit. Ga akan nyesel menonton film ini pasti akan sangat terpingkal menyaksikan Mang Uu, yakin banget deh.

Salut untuk Kang Aris Nugraha sutradara sekaligus penulis skenario dari Film ini. Idenya lahir dari observasi kehidupan preman di berbagai tempat di Bandung.

“Setiap pertanyaan harus selesai di kamu, setiap persoalan harus selesai di kamu. – Kang Bahar”

Hongkong Kasarung : Dari Budaya Lokal ke Global

Mendapat undangan Press Screening Film Hongkong Kasarung dari Blogger Crony, sungguh merupakan satu kesempatan menikmati film Indonesia sebelum Gala Premiere. Walau agak berubah jadwal dari 13.30 menjadi 15.30 tetap sayah tunggu dengan semangat.

Cerita Lutung Kasarung merupakan cerita dari daerah Jawa Barat. Jaman Now ada Hongkong Kasarung, namun bukan cerita lama di bungkus dengan kekinian. Biar Eye catching dan menjadi penasaran buat para penontonya.

Film ini akan tayang 15 Maret 2018 di bisokop seluruh Indonesia. Dengan pemeran utama Sule sebagai Sule, sudah terbaca genre film ini adalah komedi. Namun ternyata eh ternyata ada aksi juga, jadi tidak sekedar drama komedi semata.

Selain itu juga akan disuguhi gambar tentang keindahan Hongkong dan suasana pedesaan di Jawa Barat. Dan kekuatan budaya sunda dengan dialog dialog khas heureuy sunda, menambah segar suasana.

Adegan Sule dan Rebeka dalam film ini membuat sedih sekaligus bikin ngakak saat harus dipisahkan karena keadaan. Tapi bikin saya terpingkal pas adegan ini. Pokona mah seuri terus sayah mah.

Dalam Press Screening ini dihadirkan semua crew dan pemain setelah pemutaran perdana ini. Kesan dari para pemain sangat senang selama pengambilan gambar di Hongkong.

Mc nanya Pamela Bowie pemeran Alien di film ini, kenapa mau sama Sule? Itu semua terjadi karena skenario saya harus mau sama Sule, canda Pamela.

Yang penasaran sama film ini cus aja ke bioskop kesayangan pada tanggal 15 Maret ya, dan nikmati keseruan dan bodornya film ini.

Mewujudkan Mimpi di Meet Me After Sunset

“..…. Jutaan Tahun Cahaya yang mungkin, harus dinamakan rindu sampai bertemu kembali.Vino

Sebelum Press Screening Film Meet Me After Sunset (MMAS) yang digelar hari Jumat (9/02) di CGV Grand Indonesia Jakarta Pusat. Sayah membaca buku catatan kecil yang ada di pojok CGV tanpa tahu maksudnya apa. Catatan itu pembuka tulisan ini. Namun setelah menyaksikan filmnya ternyata itu merupakan buku catatan harian Gadis. Ternyata memoribilia dari film tersebut yang menghiasi pojok CGV menyambut Press Screening ini. Dari catatan tadi kelihatannya bakal ada kisah romantis anak remaja. Ada pepatah ketika jatuh cinta siapapun bisa berpuisi.

Imajinasi sayah pun berkelebat melihat pojokan itu, ada lilin, wortel, catatan harian, dan baju Tudung Merah yang dipakai Gadis. Saya seperti mencari benang merah dari memoribilia ini, namun sampai masuk studio belum menemukan jawabannya. Dan di Backdrop pemeran utama menggunakan pakaian astronot, ini makin bikin pening kepala sayah.

Tapi ga usah dipikirin lebih lanjut kali yah, mending kita nikmati jalan ceritanya MMAS ini sampai tuntas biar ada jawabannya.

Setelah masuk dan layar di buka, Badan Sensor meloloskan film ini dengan kriteria 13 tahun ke atas. Ini makin bikin sayah pening, kok ada drama remaja buat konsumsi anak SMP. Mau diajarin apa anak anak itu?

Setelah melewati adegan demi adegan ternyata mulai terjawab benang merah dari pojokan tadi. Ceritanya memang mengalir begitunsaja dan banyak kejutan di ending filmnya. Dan kenapa Badan Sensor meloloskan 13 tahun ke atas, sayah tidak melihat adegan yang kontak fisik antara Vino dan Gadis, maupun Gadis dan Bagas. Dan ini sangat berbeda dengan film genre drama remaja. Legalah sayah

Kisah ini diawali dengan kesalnya Vino (Maxime Bouttier) karena harus pindah ke Ciwidey dari Jakarta. Namun kekesalan ini tidak berlangsung lama, setelah bertemu Perempuan bertudung merah dalam gelapnya malam, dan itulah Gadis (Agatha Chealse). Di antara Vino dan Gadis ada Bagas (Billy Davidson) yang sahabat dari kecil Gadis yang selalu menjadi pelindung Gadis.

Konflik yang di bangun dari tiga karakter itu sehingga membuat cerita lebih hidup. Yang menarik dari MMAS ini visualisasi nya sangat bagus tidak harus dengan adegan kontak fisik. Namun kekuatan dari cerita ini yang di bangun. Biar ga penasaran nanti nonton aja ya

Bagi sayah peran Dadang (Yudha Keling) mencuri perhatian dengan logat sunda yang kental dan bodornya itu.

Film besutan MNC Pictures ini akan mulai tayang tanggal 22 Februari di Seluruh Indonesia. Ada satu pesan yang sangat kuat dari MMAS ini tentang berbagi untuk mewujudkan mimpi atau cita cita itu tidak harus menjadi hebat dulu. Siapapun bisa berbagi dengan yang dimilikinya.

Semoga Film Indonesia bisa menjadi Tuan Rumah di negeri sendiri.

Siapa Yang Mengatur Peredaran Fim Indonesia

Jika mengamati perfilman Indonesia yang beredar di Bioskop sangatlah jarang, bahkan tidak semua bioskop yang memutar film Indonesia. Siapakah yang berwenang mengatur pemutaran film Indonesia, Badan Sensor Film ataukah Bioskop? Karena banyak keluhan tidak dapat slot atau layar istilah orang film untuk memutar film produksinya. Jadi siapakah yang akan menonton film Indonesia jika aturannya sangat tidak jelas.

Nah ini terkait dengan Undang-undang Perfilman yang pelaksanaan belum jelas setelah disahkan Delapan tahun lalu, pemerintah tidak melaksanakan UU tersebut bahkan turunannya Peraturan Pemerintah ataupun Keputusan Mentri belum ada sehingga peredaran film Indonesia menjadi tidak jelas.

Film Indonesia sedang mulai tumbuh dengan berbagai genre yang ada, namun kesempatan untuk bisa di tonton oleh masyarakat sangat kecil, karena hanya tampil beberpa hari saja di bioskop dan tidak semua bioskop. Berbeda dengan film internasional selalu mendapat porsi layar lebih banyak. Bahkan bantak judul film yangbtidak sempat tayang di bioskop.

Saya berkesempatan hadir dalam Saresehan PeranSerta Masyarakat Perfilman, di Gedung Pusat Perfilman H Usmar Ismail, Kuningan, Jakarta Selatan pada hari Selasa ( 9/1). Dihadiri lebih dari 40 insan film dan pemerhati masalah perfilman dan juga Blogger, acara ini dipandu praktisi perfilman Akhlis Suryapati, serta membahas paparan wartawan senior dan kritikus film Wina Armada serta anggota Komisi X DPR-RI Dadang Rusdiana.

“Ketika terjadi silang-sengkarut pendapat dan tindakan yang merugikan Film Indonesia, maka kita menempatkan hukum atau peraturan menjadi acuan untuk mengkritisi semua itu,” kata Akhlis Suryapati. “Sarasehan ini digagas oleh masyarakat perfilman dengan mengajak wartawan film, untuk mengkritisis kondisi perfilman yang sebenarnya, tanpa harus ada kecurigaan-kecurigaan, apalagi kebencian, terhadap pihak-pihak tertentu. Insan film terlalu capek untuk diadu-domba dan terpecah-pecah.”

Sementara itu Wina Armada memaparkan secara fokus, bahwa pemerintah telah melakukan pelanggaran, atau tidak memenuhi kewajibannya, dalam penyelenggaraan perfilman. “Ini bukan pendapat saya, melainkan sesuai undang-undang. Yaitu Undang-undang Nomor 33 tahun 2009 tentang Perfilman,” katanya. “Di Undang-undang ini sangat jelas disebut apa yang harus dilakukan pemerintah, bahkan sangat jelas disebutkan batas waktunya, yaitu satu tahun setelah diundangkan harus menerbitkan Peraturan Pemerintah dan Keputusan Menteri. Namun sampai delapan tahun berjalan kewajiban itu tidak dipenuhi. Ada apa ini? Sejak empat atau lima tahun yang lalu, jika ditanya jawabannya selalu sudah dibahas, dipersiapkan, sudah di meja menteri, tinggal ditandatangi, dan sebagainya.”

Menurut Wina Armada, akibat dari ketiadaan peraturan turunan UU Perfilman itu, ketidakadilan berlangsung, terutama dalam penyelenggaraan usaha perfilman. Yang kuat menindas yang lemah. Film Indonesia diperlakukan tidak adil. Produser-produser takut bersuara meskipun usaha filmnya merugi miliaran rupiah, karena khawatir semakin digencet dan tidak diberi kesempatan untuk bisa tetap memproduksi dan mengedarkan filmnya.

“Kami ini membuat film dengan uang miliaran rupiah, Pak. Lenyap begitu saja, karena film kami tidak bisa beredar, atau bisa beredar namun hanya diberi jatah sepuluh atau lima layar. Bayangkan, ada 1500 layar bioskop di Indonesia, dan film Indonesia hanya main di 10 atau 15 layar bioskop. Hanya film-film tertentu milik produser tertentu yang diberi jatah 40 layar sampai 70 layar di hari-hari awal pertunjukan,” kata produser film Evry Joe, yang ‘terpaksa’ curhat dalam sarasehan itu. “Kami ini seperti mengemis di negeri sendiri, Pak. Lalu di mana pelaksanaan undang-undang itu? Di mana payung hukum itu? Di mana komitmen pemerintah yang katanya ingin memajukan film Indonesia dan menjadikan film Indonesia tuan rumah di negara sendiri?”

Menurut Evry Joe, akibatnya di antara produser film Indonesia sendiri terjadi saling curiga, tidak akur, merembet kepada insan film, organisasi-organisasi perfilman tidak bisa kompak. Iklim perfilman menjadi tidak kondusif. Yang diuntungkan oleh keadaan seperti ini, ikut-ikutan nyinyir terhadap yang tertindas.”

Sementara itu Rully Sofyan dari Asirevi mengungkapkan, bahwa UU Perfilman benar-benar terjegal oleh kekuatan politik bisnis yang besar. “Ketika saya menjadi Pengurus Badan Perfilman Indonesia, ikut mengawal dan membahas masalah ini, beberapa Peraturan Pemerintah bahkan sudah ditandatangani oleh Menteri Parekraf pada waktu itu. Perlu sekali lagi ditandatangani Menteri Pendidikan dan Kebudayaan karena UU Perfilman mengaturnya demikian. Eh, ternyata masuk-angin juga. Begitu pun DPR yang semula sempat bersemangat membentuk Panja segala, akhirnya masuk angin juga. Jadi UU Perfilman memang terjegal.”

Anggota Komisi X DPRI RI Dadang Rusdiana menyimak semua paparan dalam sarasehan, dan bertekad membawa aspirasi ini ke Komisi X DPRI RI. “Tentu saja kami perlu terus-menerus diingatkan dan didorong seperti ini, karena yang dibahas di DPR itu banyak sekali,” kata Dadang. “ Peran masyarakat melalui media, termasuk media sosial, sangat membantu dalam mendorong DPR maupun pemerintah untuk menindaklanjuti proses-proses legislasi dan monitoring sesuai fungsi dan tugasnya.

Dadang Rusdiana sependapat, UU Perfilman yang ada sudah cukup bagus dan memadai. Kebetulan juga tahun ini tidak masuk dalam Program Legislasi Nasional di DPR-RI “Persoalannya memang pada implementasi dan tidak diterbitkannya peraturan-peraturan turunannya oleh Pemerintah,” kata Dadang.

Sarasehan Peranserta Masyarakat Perfilman rencananya berlangsung secara berkala, dengan topik berbeda-beda, dalam rangka menuju Kongres Peranserta Masyarakat Perfilman bertajuk ‘Demi Film Pribumi’ di Surabaya pada 2 dan 3 April mendatang. Ayo Kita Dukung Film Indonesia berkwalitas