Labuhan Bajo, Bukan Impian Lagi

Labuhan Bajo impian banyak orang untuk bisa menikmati keindahan alamnya. Termasuk saya juga punya impian bisa menjejakkan kaki di sana. Labuhan Bajo memang seperti sebuah magnit yang sangat kuat untuk dikunjungi. Tahun 2018 impian saya bisa terwujud melalui sebuah perjalanan panjang kapal Ramadhan. Saya tergabung dalam Tim Relawan ACT yang akan memberikan bantuan kepada muslim NTT dan saya mendapatkan pos tugas di Desa Nampar Sepang, Kabupaten Manggarai Timur.

Lamanya pelayaran selama empat hari, berangkat dari Pelabuhan Garrokong Barru Sulawesi Selatan, menuju Labuhan Bajo. Sayangnya komunikasi tidak cukup lancar karena sinyal merupakan sesuatu yang sangat berharga sekali. Kami para relawan sangat merindukan sinyal yang bagus. Mendapatkan kabar dari orang terkasih memang seakan menjadi energi para relawan dalam bertugas.

Selepas sholat subuh berjamaah kapal Ferry lambat laun mulai memasuki area Labuhan Bajo. Apalagi yang di tunggu oleh kami para relawan, sunrise …… Ya benar melihat matahari terbit di lautan lepas itu sangat berbeda dengan di darat. Ada suasana yang sangat berbeda. Apakah teman-teman sudah merasakan melihat sunrise atau sunset di laut lepas? Jika sudah beda kan rasanya, ada rasa yang sulit digambarkan.

Ketika sinyal kembali ditemukan tepat pukul 05.00 WITA, wajah relawan berseri kembali karena bisa mengirim kabar kepada keluarga.

Bagi saya menunggu momen sunrise ini merupakan sesuatu yang sangat membahagiakan. Walaupun misalnya matahari tidak muncul sesuai dengan harapan. Sebagai toekangpoto keliling tentu cerita di balik sebuah foto akan memberikan kesan dan kenagan tersendiri.

Banyak di antara relawan yang menunggu sunrise, karena ini menjadi pelabuhan pertama kali di kunjungi. Ketika sunrise datang, hampir semua relawan mengabadikannya. Pengalaman ini bakal menjadi kenangan terindah, kita bisa berbagi dan menikmati keindahan alam Indonesia Timur.

Angin lumayan kencang menerpa wajah wajah kami, namun itu tidak menghalangi kami untuk terus menunggu sang mentari pagi. Dari kejauhan aktivitas di Labuhan Bajo sudah mulai terlihat, lalu lintas kapal kapal di sekitar pelabuhan. Tanpa terasa hati saya melelh melihat keindahan alam Labuhan Bajo. Saya mencubit tangan saya, dan merasakan sakit. Itu sebuah pertanda kalau saya sedang tidak bermimpi. Alhamdulillah impian saya terwujud untuk melihat Labuhan Bajo. Meskipun bukan untuk menikmati secara khusus keindahan alam, namun ada tugas kemanusiaan yang lebih penting dan berharga.

Serta merta saya pun berteriak,”Labuhan Bajooooo…saya dataaaaaang!” Beberapa relawan ada yang memandang saya sekilas. Mungkin mereka bertanya-tanya dalam hati, ada pakah gerangan?

Senang tak terkira, tapi semua ini saya lakukan demi melampiaskan rasa gembira bisa melihat Labuhan Bajo. Kapal yang saya tumpangi belum bisa merapat ke Dermaga karena masih ada KM Cakalang II sedang bersandar. Ya, setiap kapal yang datang memang harus mengantri semua ada jadwal pemberangkatan. Jadi saya menikmati labuhan Bajo dari atas kapal saja, karena belum bisa bersandar di Dermaga. Masih ada kesempatan sejenak menikmati kehidupan. pelabuhan dari atas kapal. Dan di pelabuhan ini saya akan turun dan melanjutkan perjalanan menggunakan jalur darat. Jadi momen ini saya manfaatkan betul untuk bisa menikmati Labuhan Bajo.

Tepat pukul 07.09 WITA Kapal Ramadhan merapat di dermaga Labuhan Bajo dengan selamat. Bercampur aduk bener perasaan ini, gembira, haru dan sedih.

Melihat daratan hawanya pengen nyetrit aja, terlebih terlihat pasar di dekat dermaga. Namun karena harus mempersiapkan bantuan yang akan di bawa, saya lupakan nyetrit itu. Biarlah bayangan yang menjadi memori tentang Labuhan Bajo.

Aktivitas kapal yang melayani pariwista ke Pulau Padar atau Komodo terlihat secara nyata. Dan itu menambah kebahagian tersendiri buat saya. Walaupun saya belum kesampaian sampai ke Pulau Komodo. Dengan melihat aktivitas saja sudah mengobati impian saya.

Jumat Berkah, saya bisa melaksanakan Sholat Jumat di Masjid Agung Labuhan Bajo yang tidak terlalu jauh dari dermaga. Waktu yang sangat singkat ini saya gunakan untuk nyetrit tipis. Semua itu saya lakukan untuk menyalurkan hasrat visual saya. Setiap sudut penuh dengan peristiwa keseharian masyarakat. Pikir saya, sayang sekali jika dilewatkan begitu saja. Semua peristiwa kehidupan itu saya abadikan buat anak cucu kelak. Walaupun sedikit masih ada waktu menikmati Labuhan Bajo di sela sela tugas yang banyak. Jika ada waktu lebih tentunya akan sangat menikmati sajian di sini, masyarakatnya juga ramah. Ini adalah kesan pertama saya menjejak di Timur Indonesia. Beruntung sekali saya bisa merasakan ibadah shalat jumat bersama saudara muslim di Bajo.

Bismillah menuju Nampar Sepang di Manggarai Timur

Perjalanan penuh liku segera di mulai dari Labuan Bajo, diperkiraan akan di tempuh dengan waktu 9 jam. Etape pertama Labuan Bajo – Ruteng.

“Yang bikin lama perjalanan adalah kelokan” ujar Babang Primus driver yang membawa kami.

Saya jadi teringat dengan Kelokan 44 di Sumatera Barat, jalan yang penuh kelok yang tajam. Ternyata di sini lebih tajam dan banyak sekali. Sampai pala berbie sering terantuk antuk di mobil. Tapi babang Primus keren cara nyupirnya, salut saya mah ama Babang Primus.

Ternyata goyangan laut itu belum seberapa. Goyangan kelokan Labuan Bajo ini lebih dahsyat, sampai ada rekan saya Mail (Relawan dari Sindrap) muntah muntah akibat kelokan ini.

Menjelang beduk magrib, menepi dahulu kita di pinggir jalan untuk sekedar membatalkan puasa dengan bekal. Ini adegan terindah yang saya rasakan selama perjalan ini. Ah pokoknya mah indah deh …. Walau hanya buka dengan kurma dan air putih serta cemilan cepuluh.

Setelah buka, kita lanjutkan perjalanan menuju Ruteng masih penuh dengan kelokan tentunya.

Tiba di Ruteng pukul 19.39 dihadapkan pada pilihan Nasi Padang, Soto atau Sate. Rasanya nyawa belum pada ngumpul deh. Akhirnya pilihan jatuh ke Sate Mas Nardi. Dan ternyata menu yang tersedia tinggal sate ayam saja menu yang lainnya sudah habis. Hebat bener ya jam segini udah habis, saya melihat beberapa pelangan yang datang dan kembali lagi karena yang di tuju sudah habis.

Pukul 19.53 baru datang pesanan minuman saja, satenya belum datang. Sambil nunggu sate sayah sudah habis dua bungkus krupuk hehehehehe, ga tau lapar atau kelaparan. Akhirnya Sate itu datang juga, kita sikat langsung aja.

Sebelum melanjutkan perjalanan, kami singgah ke toko yang masih buka di Ruteng untuk membeli cemilan dan minuman teman perjalanan, karena perjalanan itu masih panjang.

Surprise ada Dodol Garut di jual di toko itu, sebagai turunan Garut tentu bangga banget. Ini merupakan perjalanan saya ke Indonesia Timur yang sangat menyenangkan.

Advertisements

Taman Sari : Destinasi Tak Lekang Waktu

Cuaca sangat terik memayungi kota Pelajar. Ternyata tahun ini hampir seluruh kota di Indonesia sedang mengalami musim kering. Namun begitu tidak mengurangi semangat saya untuk terus mengeksplor kota yang ngangeni ini.

Dalam kondisi apapun saya tetap bertekad bulat untuk menikmati suasana Jogja. Panas bukan halangan untuk menikmati kota yang ke depannya akan sering dikunjungi.

Kedatangan saya kali ini memang bukan untuk travelling atau jalan-jalan. Tapi mengantar anak yang sebentar lagi akan belajar di Perguruan Tinggi. Setelah selesai urusan daftar sekolah, saya sempatkan untuk mengeksplor Jogja. Beberapa tempat sudah banyak yang dikunjungi. Saya ingat masih ada satu tempat yang terlewat untuk dikunjungi.

Saya ingin berbagi satu destinasi wisata yang tak lekang oleh waktu. Tak lekang, karena situs wisata yang satu ini berupa bangunan kuno. Konon mulai ada sejak abad ke-18 Masehi. Meskipun bangunan ini Nampak kuno tapi justru paling diminati oleh kaum milenial. Pasalnya beberapa sudut yang terdapat di dalam bangunan ini sangat indah untuk diabadikan dengan bidikan kamera. Baik kamera digital ataupun kamera henpon. Lalu, mereka membagikannya ke media sosial jadilah situs ini dikenal. Dan, sejak saat itu banyak wisatawan baik lokal maupun mancanegara datang ke situs ini. Inilah salah satu cara mempromosikan tempat wisata daerah, terutama situs-situs yang kurang dikenal atau kurang perhatian. Cara seperti ini memang sangat efektif untuk dilakukan. Buktinya banyak tempat wisata di Indonesia cepat terkenal.

Kaum milenial menyebut tempat yang bagus difoto dengan sebutan instagramable. Di dalam situs terdapat sebuah tempat bernama Sumur Gumuling. Sepanjang perjalanan menuju Sumur Gumuling banyak spot-spot kece yang sayang bila tidak diabadikan. Semuanya menarik perhatian, sebentar-sebentar saya berhenti untuk berfoto atau swafoto. Peninggalan yang patut dipelihara dan dirawat kelestariannya. Beberapa wisatawan yang pernah ke Jogya pasti tahu tempat ini. Kira-kira apa nama tempat ini ya?

Taman Sari

Ya, nama situs yang sedikit sudah saya ulas di atas adalah Taman Sari. Cuaca panas membuat Taman Sari menjadi sangat cerah. Saking cerahnya membuat saya semakin bersemangat mengeksplor Taman Sari. Bahkan menurut saya, suasana di Taman Sari terlihat begitu eksotis. Kecerahannya melambai-lambai seolah-olah mengajak bercengkrama. Saya jadi tidak peduli dengan suasana yang terik ini, pelan tapi pasti saya terus menyusuri area Taman Sari. Sesekali berhenti untuk berfoto atau mengambil sudut-sudut tempat.

Sejarah singkat. Taman Sari mulai dibangun pada abad-18 oleh seorang arsitek bernama Tumenggung Mangundipura. Beberapa lokasi di sekitar Taman Sari yang berupa rumah-rumah penduduk juga bisa dieksplor. Nyaris semua bangunan di situ masih terjaga keutuhannya. Sungguh, sebuah usaha maksimal yang dilakukan oleh Pemda setempat untuk melestarikan situs budaya. Warisan yang tak tenilai ini tidak akan pernah ada lagi jika kita tidak merawatnya dengan baik.

Ketika saya berkunjung kemarin nampak wisatawan cukup banyak. Baik wisatawan lokal maupun mancanegara, Mereka juga sama seperti diriku, pantang menyerah meski cuaca sangat terik. Aura keindahan yang dipancarkan Taman Sari lebih memukau daripada terik matahari. Mereka tidak hanya mengagumi Taman Sari, tapi mengabadikannya dengan lensa. Begitupula dengan ku, sayangnya aku tidak bisa mendapatkan foto yang tanpa objek. Mengingat banyak wisatwan jadi harus sabar jika mau menunggu sampai sepi.

Meskipun sepanjang mata memandang hanya ada bebatuan dan ornament yang berlumut. Justru di situlah keindahannya, batu dengan lumut yang terpapar matahari jadi kering kerontang. Sudut bangunan juga bisa menjadi background yang indah buat foto. Semua sangat alamiah, bukan seperti background foto di studio atau editan foto. Sungguh sebuah yang melegenda, mengingatkan kita pada kehidupan jaman raja-raja Jawa dahulu. Dan, secara nggak langsung ingatan saya pun melayang kembali ke masa itu. Jaman raja-raja Jawa yang ceritanya sempet saya ketahui dari pelajaran sejarah waktu di Sekolah Menengah Pertama.

Lokasi Taman Sari tidak jauh dari Keraton Jogja, jadi kalau berkunjung ke Keraton Jogja sempatkan singgah ke Taman Sari. Tiket masuk ke lokasi hanya 5000 rupiah ditambah biaya perijinan mengambil foto sebesar 3000. Sangat murah bukan? Harga segitu terasa sangat murah karena situs yang dieksplor luar biasa. Taman Sari sendiri dulunya adalah bekas tempat pemandian untuk keluarga raja. Adapun keluarga raja yang boleh menggunakan Taman Sari yaitu raja, permaisuri, istri lainnya ( selir ) dan putra putri raja.

Taman Sari memiliki bangunan utama, bernama Umbul Pasiraman atau Umbul Binangun. Dahulu kala tempat ini hanya dikhususkan buat keluarga raja saja. Permaisuri, istri selir dan putrid raja mandi di Taman Sari, hanya raja saja yang boleh masuk ke area ini. Tempat ini memang sangat terjaga privasinya. Setelah mengitari area Umbul Binangun, eksplor Taman Sari dilanjutkan ke Sumur Gumuling. Melewati pintu keluar saya melihat ada bebrapa pembatik dan pembuat kerajinan wayang kulit. Seketika, adrenalin saya langsung terpacu karena menemukan subjek foto dengan tema human interest.

Sebelum saya memotret, saya coba berdialog sebentar dengan pengrajin wayang kulit bernama Pak Paijo (58). Pak Paijo sudah hampir 47 tahun berprofesi sebagai pengrajin wayang kulit. Saya salut dengan ketekunan. pak Paijo dalam mengeluti wayang kulit ini, sangat jarang orang yang mau susah payah mempertahankan budaya Indonesia. Nggak lama kami mengobrol, terdengar suara adzan dzuhur. Pak Paijo dengan sopan mohon pamit untuk melaksanakan sholat dzuhur di Mesjid dekat Taman Sari. Sungguh, saya sempet tergugu melihat ketekunan Pak Paijo menjalankan sholat lima waktu. Di tengah pekerjaannya yang menumpuk beliau mau meninggalkannya untuk berinteraksi dengan Sang Pencipta. Bagi saya, ini sebuah pelajaran berharga yang tak akan dijumpai di manapun.

Sumur Guling

Berbeda dengan Umbul Binangun, suasana di Sumur Guling lebih teduh. Udara semilir terasa dari hembusan angin. Sumur Guling juga mempunyai spot foto yang kece. Bahkan di sela-sela seberkas cahaya yang masuk makin membuat eksotis. Semakin masuk ke bawah, udara semakin adem. Kebetulan waktu saya turun, ada sepasang calon pengantin sedang melakukan foto prewedding. Sumur Guling mirip sendiri merupakan bangunan berbentuk melingkar seperti cincin. Bangunannya terdiri dari dua lantai, pintu masuk ke dalam bangunan melalui terowongan bawah air.

Dulu nya Sumur Guling ini difungsikan sebagai Mesjid. Terbukti, di setiap laintainya ada mihrab buat Imam Sholat. Ketika mulai memasuki lorong, ada empat ruas menuju tengah bangunan sebelum ke lantai dua. Di sinilah spot yang paling banyak buat foto-foto. Saya lihat kaum milenial berpose untuk mendapatkan foto yang kece. Turun lagi ke bawah terdapat kolam untuk berwudhu. Hanya ada satu tangga untuk turun ke bawah. Dan, tangga ini juga menjadi spot kece buat fot


Jadilah jika ingin berfoto harus bergantian atau ngantri. Spot tangga ini menjadi spot primadona dari Sumur Guling, bukti jika sudah mengunjungi Sumur Guling ya di spot ini.

Menikmati Pagi di Quarry D Citeureup

Berawal ada undangan untuk mengikuti salah satu rangkaian acara HUT ke 44 Indocement untuk mengikuti acara Quarry Day. Saya sangat tertarik dengan undangan ini karena ingin tahu banyak tentang apa itu Quarry.

Ternyata meeting poin sebelum jam 6 pagi harus sudah ada di Halte Transmart Yasmin Bogor, dan kereta terpagi ke Bogor berangkat 05.10. Jadi harus nginap di Bogor, alhmadulillah seorang teman menawarkan nginap dirumahnya. Berkah silaturahim.

Sebelum subuh WA dari Adit masuk mengingatkan untuk persiapan berangkat ke Yasmin. Selepas sholat subuh, saya berangkat menembus dinginya Ciampea menuju lokasi pertemuan.

Alhamdulillah tidak ada hambatan sampai lokasi, sudah ada Kang Hendra pupuhu Blogor, Kang Erfano dan Adit. Rencana ada tujuh orang yang di jemput di titik ini. Selesai salaman langsung disodorin undangan pernikahan Kang Hendra. Barakallah semoga lancar proses menuju pernikahan.

Jam 06 lebih rombongan satu menuju Quarry D Citeureup, saya mah langsung nerusin tidur aja di mobil biar ada tenaga pas jalan santai. Rute Fun Walk ini akan melewati bekas tambang yang sudah di reklamasi.

Adapun kegiatan utama perayaan HuT ke-44 ini adalah penanaman pohon oleh Jajaran Direksi serta Quarry Walk bersama semua karyawan dari Divisi Unit Kantor Pusat dan Pabrik citeureup akan menyusuri area reklamasi di lahan tambang yang masih aktif ini.

Sesampainya di Quarry, ternyata parkir mobil di bawah sehingga harus jalan kaki menuju lokasi acara. Anggap saja ini pemanasan sebelum acara utama nanti. Dengan semangat 45 kami menuju lokasi dengan berjalan kaki.

Pagi ini akan mengikuti rangkaian acara perayaan HUT Ke-44 Indocement, acara diawali dengan penanaman pohon di sekitar Quarry oleh Direksi Indocement. Hal ini terkait dengan reklamasi lahan tambang di sini.

“Bergerak Berkarya Bersama” tagline inilah yang membuat Indocement bisa terus berkarya membangun negeri. Tanpa ada gerkan bersama dari seluruh karyawan dan jajaran Direksi tidak akan tercapai seperti sekarang ujar Christian Kartawijaya (Direktur Utama).

Setelah penanaman pohon, peserta di ajak melihat aksi dari Pencinta Alam Indocement menbentankan banner ucapan Ulang tahun di tebing. Sebelum melaksanakan Quarry Fun walk ini tiap departemen tampil dengan yel yel penyemangat dan akan dinilai kekompakannya.

Yang membuat berbeda dari Fun walk lainnya adalah lokasi yang akan dilalui adalah reklamasi bekas lahan tambang yang sudah tidak di gali lagi. Reklamasi ini meliputi penanaman pohon kembali, memanfaatkan lahan menjadi lahan perkebunan yang produktif dan terpadu serta menjaga kelestarian mata air Cikukulu. Mata air ini juga menjadi sumber kehidupan bagi hewan dan tumbuhan yang ada disekitar alirannya. Bahkan masyarakatpun mengambil air dari sini. Ini menandakan bahwa Indocement sangat perhatian terhadap kelestarian lingkungan. Mata air cikukulu ini area konservasinya seluas 5 hektar. Serta mata air ini memenuhi persyaratan kualitas air bersih yang tercantum di Permenkes No 416/MEN.KES/PER/IX/1990 memenuhi standar kualitas air bersih. Dan yang memanfaatkan mata air ini sebanyak 350 KK. Jadi sangat membantu untuk kebutuhan air bersih masyarakat sekitar Quarry.

Yang menarik perhatian saya dari acara ini adalah setiap pos disiapkan both untuk berfoto. Sehingga peserta sangat senang dan menikmati sehingga perjalanan selama 3 km tidak melelahkan. Kendaraan alat berat yang menjadi salah satu daya tarik peserta untuk berfoto. Tiap pos menyajikan konsep photo both yang keren banget. Sehingga peserta foto foto, kapan lagi berfoto di depan alat berat. Walaupun tertatih sayapun bisa menikmati rute ini.

Rute Quarry Walk ini memang dirancang melalui tempat reklamasi lahan tambang yang sudah ditumbuhi lagi dengan pohon pohon dan perkebunan yang produktif. Udara yang saya rasakan selama acara ini segar banget. Salah atu area ynag dilewati adalah Kebun Tegal panjang yang memiliki luas sekitar 12 hektar, dengan dikelola oleh 10 orang petani dan 2 orang tenaga pengawas. Kebun ini berisi tanaman vegetasi berbatang keras dan lunak. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan nilai ekonomi dari tanaman batang lunak seperti Pohon Cinta, Andong dan Monstera. Sehingga masyarakat mendapatkan manfaat dari kebun ini.

Dengan mengikuti acara ini saya menambah pengetahuan lagi, dan yang pasti jadi lebih sshat karena sudah berjalan lebih dari 10000 langkah di pagi itu. Sukses selalu buat Indocement.

Ada pesan yang disampaikan Direktur Utama dalam sambutannnya “Perjalanan panjang di usia ke-44 ini, Indocement terus melakukan berbagai upaya mengendalikan risiko lingkungan melalui sejumlah kegiatan, seperti pengurangan emisi, efisiensi energi, pendayagunaan limbah, perlindungan keaneragaman hayati dan pemanfaatan air bekas pakai. Upaya ini sejalan dengan pengurangan gas rumah kaca yang menyebabkan perubahan iklim”

Team Blogor

Semoga langkah kecil ini memberikan dampak yamg besar bagi warga sekitar Quarry.

Kang Dudi

Cara Lain Mengisi Kemerdekaan Melalui Dunia Visual

Jaman digital sudah tidak bisa dilepaskan lagi dari namanya foto dan video. Bahkan foto dan video bisa menjadi sarana bercerita yang sangat disukai anak milenial.

Hari ini (17/8) sejumlah pengiat street fotografi mendokumentasikan perayaan kemerdekaan dengan cara yang berbeda. Nyetrit selama 17 Jam 8 Menit dan 45 detik di kota Jakarta. Gimana rasanya nyetrit nonstop selama itu? Kalo kepo harus nyobain deh gimana motret nonstop. “Ojo Kakean Cangkem” kalo kata kangmas Didik Alhuda seorang pengiat street fotografi.

Meeting poin pertama di Stasiun Manggarai, dilanjut berjalan menuju daerah Bukit Duri. Merekam kegiatan 17-an di jalan bahkan gang gang sempit Jakarta. Ada sekitar 30 orang yang mengikuti acara ini, jalan iring iringan sambil mendokumentasikan Jakarta.

Dan ternyata hampir setiap daerah yang dilewati banyak sekali lomba 17 Agustusan untuk anak anak ataupun orang dewasa. Masyarakat sangat menikmati perayaan ini dengan cara masing masing. Ada yang di gang, jalan raya atau jalan kecil, semuanya sama tujuannya untuk merayakan kemerdekaan Indonesia yang sudah 74 tahun.

“Bebaskeun” tema yang dipilih untuk kegiatan ini, karena hakekat dari Street Fotografi itu lebih bebas tanpa pakem. Sing penting moto bro…..

Jadi Ojo Kakean Cangkem, cepat ambil kamera dan motret.

Salam Dikit dikit Jepret

17 Agustus 2019

Kang Dudi

Dari Kereta Bongowonto

Film Mahasiswi Baru : Panggil Aku Lastri Aja

Baru saja minggu kemarin mengantar anak daftar ulang untuk melanjutkan studi di kota pelajar Jogjakarta. Menjadi mahasiswa itu impian semua orang, bisa mengecap pendidikan tinggi. Mengantar anak ke jenjang pendidikan lebih tinggi ada flash black memory saat saya memasuki PT. Dan envy ini ditambahkan lagi dengan hadirnya film Mahasiswi Baru besutan dari Monty Tiwa. Tambah aja bikin pengen kuliah lagi.

Terbayang ga jika seorang yang berusia 70 tahun menjadi mahasiswi baru dan bergaul dengan kaum milenial. Bagaimana penyesuaian diri dengan lingkungan milenial. Udah dibayangi belum ? Bayangin ya manteman …..

Adegan pembuka Lastri daftar menjadi mahasiswa Fakultas Komunikasi Universitas Cyber Indonesia, sangat nonjok seorang Oma daftar kuliah dan menjadi Mahasiswi Baru. Ternyata bukan hanya dunia kampus yang menjadi ceritanya, banyak cerita tentang kehidupan.

Dalam film ini ada dua bintang film kawakan Widyawati dan Slamet Rahardjo yang bermain sangat bagus pake banget. Buat yang rindu permainan mereka, film ini sangat rekomendasi banget. Selain itu ada Morgan Oei yang berperan sebagai Dani teman satu gank Lastri di kampus. Beda banget dengan peran Morgan Oei yang biasa diperankan, di sini gokil banget bray ……

Yooooa Bray …….

Makin penasaran ? Kalo makin kepo coba aja liat trailernya dulu deh, biar rasa penasarannya hilang.

Tentunya dinamika ber-gank menjadi salah satu yang menarik dari film ini. Widyawati sangat total dalam bermain di film ini, diksi kaum milenialpun digunakan dalam dialog, keren banget oma. Dalam berkarya memang tidak mengenal usia, malah semakin matang saja permainannya.

Memang sangat hidup permainan gank Oma ini, satu sama lainnya saling mengisi. Mikha Tambayong juga bisa mengimbangi permainan Widyawati dan Slamet Rahardjo dengan apik. Seperti chemistrinya sudah dapat banget para pemainnya, sehingga seperti natural terjadi saja.

Ini salah satu film yang sangat segar dengan tema unik. Jarang ada tema film seperti ini, anak jadi orangtua yang orangtua jadi anak.

Pesan moral dari film ini juga sangat dalam, belajar itu tidak kenal usia. Jadi jangan sampai ga nonton tanggal 8 Agustus 2019 di bioskop kesayangan anda.

Selamat menonton

3 Agustus 2019

KD

Manual Brewing Itu Eksperimen

Sekarang ngopi seperti sudah menjadi bagian dari Gaya hidup. Cara seduh juga ternyata memang sangat beragam untuk menghasilkan cita rasa kopi.

Sayah berkesempatan nyeruput ilmu kopi dari Instruktur First Crack langsung Coach Okta. Sungguh sayah sangat beruntung sekali bisa mendapatkan ilmu tentang dunia hitam dari ahlinya langsung.

Yang menjadi catatan sayah tentang manual brewing selama belajar sambil praktek. Hal yang sangat fundamental adalah kita harus mengenal Roasted Bean yang akan kita seduh terlebih dahulu sebelum teknik menyeduh dan lain lain.

Dari sini kita akan mengenal Light Roast, Medium Roast dan Dark Roast secara umum. Setelah Roasted bean hal yang akan mempengaruhi hasil seduhan adalah Grind Size. Dan setelah itu suhu berapa kita akan menyeduh.

Dan rasa seperti apa yang ingin dimunculkan dari kopi yang kita seduh.

Awal mengenal dunia hitam alias dunia kopi, nyeduh aja kok ribet pikir sayah. Namun justru disanalah kita menemukan rasa dari profil kopi. Kopi boleh sama, metode seduh sama, suhu sama, namun rasa akan berbeda satu dengan yang lainnya. Inilah dunia hitam yang menyenangkan itu.

Bagaimana menemukan rasa manis dari sebuah seduhan, rasa buah dan masih banyak sensansi yang bisa dirasakan saat menyeduh.

Pesan singkat yang sangat mengena buat sayah dari coach Okta adalah menyeduh itu harus rileks, sehingga akan menghasilkan rasa kopi yang luar biasa. Dan manual brewing itu adalah eksperimen, jadi perbanyaknya mencoba teknik seduh, grind size, roasted bean, gramasi. Karena kopi itu eksperimen sepanjang masa.

Sudah ngopi hari ini? Jangan pernah lelah mencari rasa kopi, teruslah menyeduh dan mensesap kopi.

Kang Dudi

Barista, Profesi Yang Menjanjikan

Di zaman now orang suka membuat janji di coffee shop atau kedai kopi. Sang peracik kopi di sebut Barista. Untuk menjadi seorang Barista yang hnadal tentu perlu bekal dan pengalaman yang banyak.

Barista juga menjadi bagian insan pariwisata Indonesia, menjadi ujung tombak mengenalkan Kopi Indonesia.

Dinas Pariwisata dan kebudayaaan DKI Jakarta pada tanggal 12-15 Juli mengadakan pelatihan Barista untuk 43 orang yang terpilih dari 94 orang pelamar.

Bapak Encu S, Kepala Dinas Pariwisata mengharapkan kepada semua peserta pelatihan Barista bisa menjadi ujung tombak dalam kepariwisataan. “Profesi Barista ini sudah banyak peminatnya, ke depan bisa menjadi destinasi baru dalam kepariwisataan” ujar Encu Suhairi dalam pembukaan pelatihan Barista.

Setelah mengikuti pelatihan ini, akan diikutkan uji kompetensi Barista yang dilakukan oleh BNSP.

Peserta termuda dalam pelatihan Barista ini adalah Dina (17) baru lulus dari SMA. Keingintahuan tentang kopi yang mendorong kuat untuk ikut pelatihan ini, walaupun dasar kopi belum banyak tahu.

Selama empat hari peserta diberikan bekal teori dasar Barista dan kompetensi apa saja yang perlu dimiliki oleh seorang Barista. Dua hari praktek dan post test. Jika peserta lulus maka akan diikutsertakan kepada ujian sertifikasi BNSP.

Alhamdulillah saya termasuk orang yang sangat beruntung bisa menimba ilmu tentang Barista ini langsung dari praktisinya. Semoga bekal ini akan menjadi manfaat bagi masyarakat.

Mengenang Pahlawan Kemanusiaan

Pagi pagi buka sosial media dikejutkan dengan wafatnya Sutopo Purwo Nugroho Kepala Pusdatin BNPB yang meninggal di Ghuanzho dalam perawatan kanker. Sudah hampir dua tahun ini beliau melawan kanker yang ada di tubuhnya.

Foto http://www.liputan6.com

Siapa yang tak kenal Pak Topo, panggilan akrab beliau. Terlebih ketika ada bencana alam melanda, informasinya sangat di tunggu sekali oleh warga Indonesia ataupun dunia.

Beliau mendedikasikan diri untuk kemanusiaan, bahkan setelah di vonis kanker pun masih terus menlanjutkan tugasnya.

Ketika bencana gempa bumi Lombok masih melayani telpon dari para wartawan terkait kondisi terkini dari lapangan.

Sayah mengenal beliau secara langsung ketika acara nangkting bersama Kompasiana ketika sosialisasi bencana melalui media cerita radio, sekitar tahun 2016 sebelum terkena kanker. Sosoknya yang ramah dan sangat melayani setiap pertanyaan dari Blogger ataupun media. Informasi kebencanaan memang selalu mengalir dari beliau langsung dan update.

Hari ini kembali Indonesia kehilangan salah satu putra terbaik. Terutama dalam dunia kebencanaalaman.

Semoga Allah menerima semua amal sholeh beliau selama hidupnya.

Selamat Jalan Pahlawan Kemanusiaan Indonesia

Apresiasi Satgas Pertamina MOR III

Mudik adalah tradisi tahunan yang ada di Indonesia ini, banyak hal terjadi dalam tradisi mudik. Terutama perpindahan orang secara serentak menuju kampung halaman.

Di balik tradisi ini ada orang orang hebat yang melayani kebutuhan orang mudik ini. Orang orang yang rela bekerja demi kelancaran proses mudik lebaran ini.

Hari ini (25/6) telah dilakukan pemberian apresiasi Satgas Bagi Mitra Pertamina Siaga Pertamina Marketing Operation Region III Jawa Bagian Barat di Hotel Grand Mercure Kemayoran Jakarta Pusat.

Tim satgas ini telah menyelesaikan semua tugasnya pada tanggal 19 Juni kemarin. Untuk Satgas BBM mulai bekerja dari tanggal 6 Mei saat awal ramadhan. Dan satgas BBM mulai bertugas dua pekan sebelum lebaran pada tanggal 21 Mei 2019. Tim ini bertugas siang malam untuk menjaga pasokan BBM dan LPG di masyarakat.

Di balik tugas ini tentu banyak sekali cerita suka dukanya dalam melayani masyarakat. Baik itu Pertamina ataupun mitra Pengusaha SPBU, Polri, Jasa Marga serta layanan bisnis Pertamina Retail dan Patra Niaga.

Dari Polres Subang kemarin AKBP Asep memberikan sedikit pengalaman selama membanyu kelancaran tugas satgas, yaitu ketika sedang pemberlakuan one way, ada salah satu SPBU sedang habis stok BBM. Bagaimana bisa menyebrang truk tangki BBM untuk bisa suplai SPBU yang habis stok. Ini mungkin satu cerita dari beratus bahkan beribu cerita satgas.

Apresiasi ini diberikan kepada mitra yang sudah melaksanakaan tugas yang tidak mudah ini selama Ramadhan dan Idul Fitri 2019. Dalam hal ini Pertamina ingin memberikan apresiasi kepada para mitranya. Ini adalah langkah ynag sangat perlu dihargai untuk apresiasi kepada mitra yang melakukan tugas luar biasa. Sudah sepatutnya Pertamina memberikan apresiasi.

Ada enam katagori apresiasi yang diberikan kepada mitra, yaitu

1. Katagori mitra Pertamina Siaga, ynag turut membnatu kelancaran arus mudik. Ini pertama kalinya MOR III memberikan apresiasi kepada mitra bisnis, Pertamina Retail, Patra Niaga, Jasa Marga dan Lintas Marga Sedaya.

2. Katagori Mitra Satgas Pertamina Siaga, yang mendukung kelancaran operasional penyaluran BBM, yaituu dari Kasatlantas Polres Indramayu, Polres Garut, dan Polres Subang serta Hiswana.

3. Katagori SPBU Siaga, yang memberikan dukungan maksimal kepada Pertamina selama masa Satgas yang diberikan kepada 16 SPBU Tol dan non tol.

4. Katagori SPBU Modular dan Kios Pertamina siaga, yang memberikan dukungan penyaluran BBM bagi pemudik ynag tidak ada titik layanan SPBU.

5. Katagori Terminal BBM dan Depot LPG, ynag nonstop melayani 24 jam memenuhi pendistribusian BBM dan LPG di tengah kemacetan dna rekayasa lalu lintas, sehingga harus melakukan strategi alur pendistribusian yang di luar alur biasanya.

6. Katagori Satgas Pertamina Siaga, yang merupakan penghargaan bagi seluruh tim Pertamina yang menjadi satgas selama arus mudik balik, bertugas di lapangan ataupun di posko standby selama 24 Jam dalam 7 hari kerja.

Itulah enam apresiasi yang diberikan kepada para mitra Pertamina MOR III yang telah membantu selama masa tugas Arus mudik dan Balik Lebaran 2019.

Ada yang menarik perhatian saya selama mengikuti acara ini, yaitu adanya Call Center 135 dan SPBU Modular. Dalam tayangan video, ada seorang pemudik yang kehabisan bahan bakar di tol dan menghubungi call center 135. Tidak berapa lama ada petugas datang dengan membawa BBM ke pemesan. Ini adalah langkah konkrit dari Pertaminan MOR III dalam melayani masyarakat selama masa satgas. Salut buat layanan seperti ini, sehingga bisa langsung dirasakan oleh konsumen.

Dokumentasi Pertamina MOR III

Satu lagi terobosan yang patut di apresiasi adalah SPBU Modular. Ketika masa mudik rest area menjadi penuh sehingga tidak bisa menampung lagi pemudik yang ingin mengisi BBM. Di beberapa titik yang belum ada SPBU, pertamina membuat SPBU Modular untuk melayani masyarakat, dan ini juga sangat membantu masyarakat.

Di akhir acara saya juga di apresiasi oleh panitia dalam Instagram Challenge selama acara. Mendapatkan voucer Pertamina sebesar 1 juta. Alhamdulilah

Sukses buat Pertamina MOR III sehingga layanan terus berkembang lebih baik lagi.

Koki Koki Cilik 2: Profesi Chef Menjadi Impian Anak Indonesia

Dunia kuliner di Indonesia sudah menjadi kian populer, bahkan wisata kuliner pun menjadi salah satu tujuan ketika sedang piknik. Seakan tidak sah piknik tidak menikmati makanan khas daerah yang dikunjungi.

Liburan sekolah juga sekarang sangat beragam untuk di isi dengan kegiatan yang positif. Cooking Camp menjadi salah satu altenatif anak anak mengisi liburan dengan belajar memasak. Tapi kegiatan ini hanya ada di film Koki Koki Cilik 2, alumni Cooking Camp ingin reuni dan kembali belajar masak.

Nah di musim liburan sekolah seperti sekarang ini, film ini bisa menjadi salah satu alternatif kegiatan bersama keluarga. Bagaimana kelanjutan ceritanya mah mending nonton aja langsung tanggal 27 Juni di Bioskop kesayangan bersama keluarga.

Gimana jika belum nonton Koki Koki Cilik? Jangan khawatir pasti nyambung kok, yang pasti mah ga kalah serunya film ini. Yang namanya film pasti ada konflik yang di bangun untuk membuat cerita semakin menarik.

Alhamdulillah sayah berkesempatan ikut nonton Gala Premiere Koki Koki Cilik 2 ini di XXI Kota Kasablanka pada Kamis (20/6) bersama Komunitas ISB yang digawangi Teh Ani Berta.

Ajang reuni memang selalu bikin baper, begitu juga dengan reuni Cooking Camp ini. Seru pisan nonton film ini, bahkan untuk masakannya pun sangat mudah buat anak anak membuatnya. Memang disesuaikan dengan kemampuan anak anak. Untuk hal ini tim menggunakan konsultan chef langsung, jadi memang real bisa dilakukan oleh anak anak.

Dengan dukungan Ringgo Agus Rahman sebagai Chef Grant, makin membuat film ini lebih hidup. Karakter anak anak juga sangat menarik terutama Melly yang selalu nyerocos di antara teman temannya itu. Ada enam karakter anak alumni cooking camp, Bima (Farras Fatik) dan teman temannya ini kaget dengan kondisi Cooking Camp.

Dalam Film Koki Koki Cilik 2 ini, selain Ringgo Agus Rahman ada juga Chef Evan diperankan oleh Christian Sugiono, Adel (Kimberly Rider). Dan ke enam anak Cooking camp mereka adalah Bima (Farraz Fatik), Melly (Alifia Lubis), Kevin (Marcello), Alva (Ali Fikri), Niki (Clarice Cutie), Key (Romaria), yang baru yaitu Adit (Ahdiyat).

Film ini selain menghibur juga sarat dengan pesan moral ynag disampaikan untuk anak anak Indonesia. Dan layak untuk menjadi tontontan saat mengisi liburan anak sekolah.

Mimpi adalah kunci untuk berbuat lebih banyak lagi. Profesi chef sekarang menjadi mimpi banyak anak Indonesia.

Kalo kepo bisa lihat Trailernya di sini ya manteman.

Jangan lupa nonton ya tanggal 27 Juni nanti