Kiprah Amilia Agustin, Tentang Menyelamatkan Bumi

Selain roadshow ke Kampung Berseri Astra (KBA) Rawajati pada hari Sabtu (7/12). Saya mengenal satu sosok yang sangat inspiratif. Salah seorang penerima SATU Indonesia Award tahun 2010, yaitu Amilia Agustin. Saya penasaran bagaimana kisahnya hingga dia bisa mendapatkan SATU Indonesia Award dengan usia paling muda yaitu 14 tahun. Pada saat duduk di bangku SMP menerima penghargaan SATU Indonesia Award. Dan merupakan penerima Award yang termuda sampai saat ini.

Di depan Blogger dan media Amilia Agustin menceritakan di bagaimana prosesnya bisa terpilih sebagai salah satu penerima SATU Indonesia Award di tahun 2010. Saya sungguh malu jika membayangkan saat usia 14 tahun belun memikirkan kontribusi apa apa. Namun bangga juga bisa mengenal sosok yang luar biasa di usia remaja. Seorang remaja pelajar Sekolah Menengah Pertama menerima penghargaan tingkat Nasional, pasti seorang yang hebat.

Dulu waktu SMP pemalu, untuk bericara di depan umum kata Amilia Agustin, sekarang sudah terbiasa berbicara di depan umum. Untuk kampanye awalan masih menggunakan media wayang karena belum percaya diri untuk berbicara di depan umum.

Ami demikian sapaan akrab gadis berkerudung ini, memaparkan bagaimana proses seorang anak 14 tahun menjadi kandidat penerima SATU Indonesia Award pada tahun 2010. Prestasi yang didapatkan dalam bidang Lingkugan Hidup.

Ami kecil sering diajak ibunya ke Perpustakaan Daerah. Dari sinilah wawasan mulai bertambah karena bacaan bacaan di Perpustakaan itu. Rasa keingintahuan yang besar ini sebagai modal.

Bagaimana awalnya bisa berkontribusi untuk lingkungan hidup, Ami menceritakan ketika SMP, sedang pelajaran olahraga. Waktu itu lari di sebuah taman dekat sekolah melihat seorang kakek sedang makan siang di sebelah gerobak sampah. Dari episode itu terjadi perenungan yang dalam pada diri Ami.

Sampah begitu banyak di sekitar kakek mungkin salah satunya berasal dari Sekolah Ami. Bagaimana jika kakek itu sakit, mungkin Ami dapat dosa karena membuang sampah sembarangan. Dari kejadian kecil itulah, Ami mulai memikirkan tentang gerakan Lingkungan Hidup dari Bangku SMP.
Kejadian yang ditemui saat olahraga lari itu diceritakannya kepada guru pembimbing KIR yang ada di sekolahnya. Sejak saat itu, ia mulai berdiskusi kira kira apa yang bisa dikerjakan oleh anak SMP. Saat itu kampanye Zero Waste belum populer di kalangan millenial.

Atas saran guru pembimbing KIR untuk belajar ke Yayasan Pengembangan Biosains dan Bioteknologi (YPBB) yang bergerak di bidang pengomposan dan pemilihan sampah. Dan dari sinilah Ami mulai belajar tentang pengelolaan sampah organik dan anorganik. Upaya itu dimulai pada tahun 2008 dengan menggunakan kardus untuk memisahkan sampah organik dan anorganik di tiap kelas. Langkah awal tidak mulus, bahkan penuh dengan rintangan. Bukan pujian yang di dapat namun hinaan dan cemooh. Bahkan guru juga mempermasalahkan karus yang dipakai sebagai tempat sampah. Namun ini tidak menyurutkan langkah Ami dan teman teman untuk terus bergerak. Dengan adanya pengalaman pahit yang dihadapi Ami dan teman teman, menyadarkan bahwa kampanye pemilahan sampah ini tidak mudah jika dilakukan sendiri. Sehingga timbul ide mengkampanyekan tentang pemilahan sampah melalui Masa Orientasi Sekolah (MOS) di sekolahnya. Ide itu terus bergulir bersama teman temannya. Waktu itu kampanye pertama kali menggunakan media wayang, karena Ami belum berani ngomong di depan umum. Sambil mengenang mengawali program ini.

Untuk memperkuat gerakannya Ami dan teman teman sepakat untuk membuat subdivisi baru di ekstrakulikuler KIR khusus tentang pengelolaan sampah di sekolah. Nah “Sekolah Bebas Sampah” atau “Go To Zero Waste School“. Dengan anggota berjumlah 10 orang, sejak saat itu sering diajak Guru Pembimbing untuk mensosialisasikan program ini kemana mana.

Amilia Agustin
Daur ulang sampah plastik

Tidak selesai dengan memilah sampah sekolah saja, Ami terus memikirkan bagaimana mengolah sampah itu menjadi sesuatu yang bermanfaat. Pas naik kelas 9 ada seorang teman dari keluarga yang kurang mampu, timbul ide untuk mendaur ulang sampah untuk menjadi sesuatu yang bisa dijual.

Sehingga Ami dan teman teman memberdayakan ibu-ibu untuk membuat tas dari bungkus kopi. langkah itu terus bergulir hingga sekarang. Nah dari gerakan ini Ami mendapat undangan sebagai kandidat penerima SATU Indonesia Award pada tahun 2010 dalam bidang Lingkungan Hidup. Ami tidak mengira bahwa dia menjadi kandidat termuda untuk meraih award ini. Ami menyangka award ini hanya antar sekolah saja, namun ternyata award ini tingkat Nasional. Pengalaman ke Jakarta untuk seleksi lanjutan kandidat penerima award ini mempunyai pengalaman yang tidak pernah terlupakan Ami.

Itulah sekelumit cerita tentang peraih SATU Indonesia Award termuda dalam Lingkungan Hidup. Dan sekarang Ami sudah berusia 23 tahun dan bekerja di salah satu anak perusahaan Astra di Bidang CSR.

Selepas SMP terus bergerak untuk mengkampanyekan Lingkungan hidup. Tidak berhenti setelah mendapat award, namun menjadi pemicu semangat bergerak. Semoga semangat Ami ini bisa menjadi inspirasi bagi semua orang. Usia 14 tahun Ami sudah mulai bergerak untuk Lingkungan Hidup, kamu kapan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s