99 Nama Cinta, Sebuah Film Humanis

Ketika mendapat undangan Press Screning Film 99 Nama Cinta dari Komunitas ISB, ada beberapa pertanyaan yang mengelayuti hati. Film tentang apakah gerangan, karena dari judul saja menarik perhatian. Dan bergenre apakah film ini?

Sampai pada akhirnya pada hari rabu (23/10) di XXI Senayan city rasa penasaran itu hilang, dengan menonton Film 99 Nama Cinta.

Antara hidup dunia dan akhirat itu akan selalu beriringan tidak ada bertentangan. Dalam film ini sangat jelas mengambarkan realita yang ada dalam keseharian kita. Kehidupan keseharian kita itu memangbmerupakan implementasi dari Agama, tidak ada satu aktifitas kita yang lepas dari Agama, dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi.

Naskah film ini di tulis oleh Garin Nugroho seorang sutradara yang filmnya sering menjadi box office.

Dalam film ini menceritakan dua kehidupan yang sangat berbeda, dunia showbiz dan kehidupan pesantren tradisional yang sangat kental dengan kehidupan beragama.

Para pemain film ini Acha Septriasa, Deva Mahendra, Chiki Fawzy, Adinda Thomas, Dzawin, Susan Sameh, Roby Purba, Donny Damara dan Ira Wibowo sangat apik bermain dan menghidupkan peran peran itu.

Acha Septriasa sebagai Talia seorang presenter sekaligus produser acara Gosip, dan Deva Mahendra sebagai Gus Kiblat seorang pengasuh pondok pesantren. Mereka dipertemukan oleh amanah orang tua mereka. Terbayang ga kehidupan mereka sangat bertolak belakang, satu sangat glamor dan penuh ambisi. Di satu sisi ada kehidupan berbagi ilmu.

Tim MNC Pictures bisa meramu ini dengan baik sekali, ceritanya ringan dan banyak hikmah yang bisa kita ambil. Kalau kepo coba aja liat thrillernya dulu di sini ya.

Dalam hidup itu ada suka dan duka silih berganti menghampiri kita, dalam film ini juga di ramu dengan apik mengalir dengan ringan realitas kehidupan. Bahwa semua orang punya potensi menebarkan kebaikan dalam kehidupan ini. Siapapun orangnya pasti bisa untuk menebarkan kebaikan kapan saja dan di mana saja.

Setting latar pesantren yang di bangun dari hasil Wakaf Produktif berupa perkebunan coklat. Memberikan contoh nyata bahwa siapapun bisa berkontribusi dengan apa yang dimilikinya. Tidak harus menjadi ustad untuk bisa berkontribusi dalam membangun pesantren. Jika kita punya kelebihan harta bisa berkontribusi dengan harta yang kita miliki. Jadi kita itu bisa berkontribusi dengan apa yang kita miliki.

Kita bisa belajar juga dari 99 Asmaul Husna untuk bisa diterapkan dalam kehidupan kita sehari hari. Kalau sudah kepo akut sama film ini, jangan lupa tanggal 14 November 2019 nonton di bioskop kesayangan manteman ya. Pasti deh banyak hikmahnya, ini tontonan yang penuh tuntunan.

Inspiratif sekali cerita yang di angkat dalam film ini. Banyak hal yang bisa dijadikan pelajaran. Walaupun bukan bergenre film Religi, namun pesan pesan tentang kehidupan beragama sangat kental terutama tentang Asmaul Husna yang diterapkan dalam kehidupan nyata. Ini salah satu film yang harus masuk wishlist bulan depan. Jangan sampai ga nonton film ini ya manteman.

Alur, setting dalam film ini sangat apik sekali. Tempo dan rasa di bangun dengan lancar. Tak terasa kita bisa tertawa dan menangis sepanjang menonton film ini.

Ini sebuah tuntunan dalam bentuk film, jadi nonton jangan lupa nonton.

Kang Dudi