Barista : Dulu Pekerjaan Sekarang Profesi

Apa yang terbayang dalam benak manteman tentang Barista ?

Dokumentas LSP Kopi Indonesia

Ya benar seorang peracik kopi di sebuah coffee shop. Namun yang membedakanya sekarang Barista sudah menjadi prosesi yang harus mempunyai kompetensi.

Gelombang ketiga penikmat kopi sekarang sudah pada tahap home brewing. Artinya penikmat kopi pengen mempunyai pengalaman dalam menyajikan atau merasakan kenikmatan sebauh seduhan.

Saya pribadi mengenal kopi dan menjadi home brewing sudah hampir dua tahun dengan peralatan seminimal mungkin sing penting bisa nyeduh dan merasakan sensansi.

Beberapa minggu yang lalu entah dari mana ada link pendaftaran untuk sertifikasi Barista yang diadakan oleh Dinas Pariwista DKI yang bekerjasama dengan LSP Kopi Indonesia. Saya coba daftar untuk mengikuti ini, dengan pengalaman home brewing belum bersentuhan dengan mesin sama sekali.

Encu Suhadi Kepada Dinas Kepariwisataan dan Kebudayaan DKI Jakarta, mengharapkan dengan adanya sertifikasi Barista ini kopi Indonesia muali dikenalkan kepada para wisatawan mancanegara. Mungkin ke depan di tiap destinasi wisata ada kedai kopi Indonesia, ujung tombaknya adalah Barista.

Barista memang sedang naik daun

Kembali ke laptop, saya mendapatkan kesempatan yang luar biasa ini untuk bisa mengikuti sertifikasi walau belum ada pengalaman kerja menjadi barista, hanya seorang home roastery biasa saja.

Banyak pelajaran yang bisa saya ambil selama dua hari ini tentang 12 kompentensi seorang Barista.

Ternyata masih harus belajar banyak lagi aspek lain selain teknik menyeduh. Terutama Conversation in English harus bisa menerangkan kepada konsumen tentang kopi dari a sampai z.

Terima kasih kepada Dinas Pariwisata DKI dan LSP Kopi Indonesia yang telah memfasilitasi program ini semoga menjadi salah satu cara untuk meningkatkan kompetensi Barista.

Untuk kepala suku angkatan 2019 Erik dan teman teman seangkatan you are rock man. Tetap semangat dan bersinergi sampai ketemu di WAG dan pembukaan kedai Mpok Guru.

29 Mei 2019

Advertisements

Mengenal Talasemia

Ada yang tahu apa itu talasemia? Talasemia adalah satu penyakit kelainan sel darah merah yang diturunkan oleh kedua orang tua kepada anak dan keturunannya. Salah satu penyebabnya adalah berkurang atau tidak terbentuknya hemoglobin manusia, sehingga mengakibatkan sel darah manusia mudah pecah dan mengakibatkan kurang darah atau anemia.

Apa saja yang perlu kita ketahui tentang penyakit talasemia. Saya berkesempatan ikut peringatan Hari Talasemia Sedunia di Kementrian Kesehatan RI pada hari Senin 20 Mei 2019. Namun sebenarnya hari Talasemia jatuhnya pada tanggal 8 Mei, peringatanya saja yang mundur. Banyak sekali informasi yang di dapat dari acara ini.

Sebelum mulai acara, ada skrining pemeriksaan darah untuk melihat apakah darah kita pembawa sifat atau tidak. Karena Talasemia ini memang penyakit yang diturunkan melalui genetik, sehingga perlu ada skrining khusus terhadap darah. Hal ini dilakukan untuk mendeteksi dini adanya penyalit talasemia ini. Karena dengan skrining ini talasemia bisa diketahui, terutama kepada yang ada keturunan atau riwayat keluarga. Ini adalah salah satu bentuk pencegahan secara dini. Jadi jika ada keluarga yang sakit talasemia, lebih baik skrining daei awal untuk mengetahui ada pembawa sifat tidak di dalam darah kita. Karena penyakit ini bersifat genetik, jadi perlu skrining.

Untuk mengetahui ciri ciri seseorang kena talasemia, ada beberapa tanda yang harus diwaspadai.

1. Memiliki penyakit riwayat keluarga yang anemia atau pasien talasemia.

2. Pucat dan lemas

3. Riwayat transfusi berulang

4. Pemeriksaan darah, Hematologi lengkap dan analisa Hb

Jika keluarga punya riwayat penyakit talasemia sebaiknya melakukan skrining lebih awal sehingga bisa dilakukan penanganan lebih awal. Kalau bisa sebelum menikah dilakukan skrining ini, karena bisa di lihat ssbagai pembawa sifat atau ada talasemia.

Bapak Dona Rifana sedang berbagi pengalaman kepada para peserta (Dok Blogger Crony)

Bapak Dona Rifana seorang Talasemia Survivor membagikan pengalaman kepada peserta seminar. Beliau sudah diketahui talasemia dari usia 4 tahun, bagaimana suka dan duka menjalani sebagai survivor. Diharapakn dari acara ini bakal tumbuh pengetahuan tentang talasemia di masyarakat lebih luas lagi.

Secara klinis talasemia ini di bagi menjadi 3 , yaitu :

1. Talasemia Mayor, pasien yang memerlukan transfusi darah secara rutin selama hidup.

2. Talasemia Intermedia, pasien memerlukan transfusi darah namun tidak rutin.

3. Talasemia Minor/Pembawa sifat, secara klinis sehat, hidup seperti orang normal secara fisik dan mental, tidak bergejala dan tidak membutuhkan transfusi darah.

Talasemia Mayor belum dapat disembuhkan penyakit ini, pengobatan satu satunya adalah transfusi darah secata rutin ditambah dengan obat.

Jadi skrining itu merupakan pencegahan dini untuk talasemia. Mencegah lebih baik dari pengobatan

Silent Killer Itu Bernama Hipertensi

Tahukah hari ini 17 Mei itu sebagai Hari Hipertensi Sedunia?

Kalau belum tahu sekarang saatnya tahu dan aware tentang Hipertensi ini. Karena biasanya gejalanya itu kadang tidak terlihat sehingga banyak yang abai dengan penyakit ini.

Hal sederhana yang bisa dilakukan untuk penyakit ini adalah dengan mengukur tensi darah, “Check Your Number” dengan mengetahui tensi darah maka kita akan tahu kondisi kita. Sehingga jika terjadi tensi tinggi bisa diantisipasi lebih awal. Dengan mengecek tensi dan mengenali berapa ukuran ini menjadi salah satu usaha yang bisa dilakukan untuk mengenali gejala hipertensi.

Sumber BloggerCrony

Hipertensi itu merupakan salah satu penyebab rusaknya organ yang mempunyai pembuluh darah. Jadi yang rusak adalah pembuluh darah, sehingga mengakibatkan berbagai penyakit lain. Bahkan di berbagai negara penyakit ini menjadi “Silent Killer” ujar Dr Tunggul D Situmorang dalam seminar tentang Hipertensi di Kemenkes pada hari Jumat 20 Mei 2019.

Dr Cut Putri Arianie MHKes ( sumber BloggerCrony)

Selain itu juga Dr Cut Putri Arianie MHKes, Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan Indonesia menyatakan bahwa Hipertensi itu merupakan pintu masuk berbagai penyakit tidak menular. Diharapkan masyarakat bisa aware dengan hal ini, dengan gerakan Cerdik. Dan hal pertama adalah Know Your Number.

Apa itu Cerdik ?

Cek Kondisi Kesehatan Secara Berkala

Enyahkan asap rokok

Rajin aktivitas fisik

Diet sehat dengan kalori berimbang

Istirahat cukup

Kelola stres

Dengan kita mengenali berapa angka tensi ini salah satu cara untuk mengetahui gejala awal hipertensi dan ini meeupakan bagian dari CERDIK yang pertama. Dengan berprilaku cerdik dalam mengatasi Penyakit Tidak Menular.

Data World Health Organization (WHO) tahun 2015 menunjukan sekitar 1,13 Milyar orang di dunia menyandang hipertensi, artinya bahwa 1 dari 3 ornag di dunia terdiagnosis hipertensi. Dan data ini diperkirakan naik terus dari tahun ke tahun, prediksi 1,5 Milyar di tahun 2025.

Data dari BPJS kesehatan, bahwa biaya pelayanan kesehatan hipertensi juga meningkat dari tahun ke tahun. Tahun 2016 2,8 Triliyun dan tahun 2018 sebesar 3 Triliyun.

Melihat data data di atas memang besar biaya pengelolaan hipertensi ini, namun bisa di kelola dengan pola Cerdik. Jadi kita bisa mengelola dengan merubah pola hidup menjadi lebih baik.

Ayo kita kenali berapa tensi darah kita dan lakukan akvitas fisik yang cukup untuk menghindari hipertensi.

Ambu, Semesta Pertama dan Terakhir

Ambu dalam basa sunda adalah sebutan untuk Ibu. Ketika ada tawaran Press Screening film Ambu ini langsung aja daftar. Karena penasaran dengan judulnya, seorang ambu yang bagaimana akan divisualissasikan di Film ini.

Sungguh sangat bikin kepo abis dengan judulnya. Rasa penasaran ini makin menjadi ketika banyak penonton yang menggunakan iket Baduy.

Jadi ada hubungan apa iket Baduy dan Ambu ini? Ternyata eh ternyata setting film ini di Kanekes Baduy.

Yang pasti mata dimanjain banget dengan visual tentang Baduy. Sang DOP Yudi Datau berhasil memanjakan mata penonton dengan keindahan Baduy.

Poster Film 3 Tokoh, Fatma (Cynthia Bella), Ambu Misnah (Widyawati) dan Nona (Luthesa). Nah Tokoh Ambu dan Fatma ini aseli Baduy. Jika seorang warga sudah keluar dari Kampung Kenekes maka sudah bukan warga Baduy lagi. Jika ini kembali perlu di hukum selama 40 hari dan di terima kembali dengan adat Baduy.

Dalam cerita ini Fatma sudah keluar dari Kanekes karena menikah dengan orang Jakarta. Proses kembalinya Fatma ke Kanekes dengan membawa anaknya yang tidak mengenal adat Baduy sama sekali ini menjadi cerita yang menarik.

Karena susah tidak mempunyai apa apa lagi di Jakarta, akhirnya Fatma kembali ke Kanekes. Walaupun tahu akan penerimaan Ambu terhadapnya sangat dingin.

Di Film ini juga ada beberapa prinsip orang Baduy yang bisa di ambil oleh kita, seperti jalan harus beriringan ke belakang. Kalau kita berjalan bersisian akan menghalangi orang lain yang berlawanan arah. Saya baru tahu tentang hal ini di film ini. Kearifan lokal Baduy sangta terasa di film ini.

Ambu pun melaporkan kedatangan Fatma kepada Jaro (Pemangku Adat), gimana mensikapi ini. Jaro mengembalikan kepada Ambu Misnah, mau menerima kembali Fatma dengan catatan harus di hukum selama 40 hari. Atau Fatma mau di anggap sebagai Semah (tamu) selama tinggal di Baduy.

Proses penerimaan Ambu ke Fatma inilah cerita yang menguras air mata penonton. Bagaimanapun seorang ibu akan terus mengasihi anaknya.

Film ini memang berbeda dari yang lain dan patut menjadi salah satu yang di tonton. Jangan lupa tanggal 16 Mei untuk nonton film Ambu ini.

Selamat menonton Ambu, Semesta Pertama dan Terakhir.